Di kotaku, pekanbaru sudah hampir seminggu dilanda banjir. Tapi syukurlah nggak sampai ke lingkungan rumahku. Sangat menyedihkan memang kalau melihat warga yang rumahnya terendam banjir. Bagi anak-anak yang masih sekolah mungkin buku dan alat-alat tulis sudah nggak layak pakai lagi. Bahkan mungkin saja sudah hilang karena dihanyutkan banjir. Kalau gitu, gimana lagi anak-anak yang masih jadi murid di sekolah-sekolah yang ada di sekitar rumah mereka belajar ?
Bahkan ada gedung sekolah yang terendam banjir. Kalau sekolah saja terendam banjir, walau buku-buku dan alat-alat tulis masih bisa dipakai, gimana bisa belajar ?
Tapi aku melihat ada yang aneh dengan perilaku warga yang terkena bencana itu. Anak-anak yang notabene seharusnya masih harus belajar (ada atau nggak tempat belajar), dijadikan keluarga mereka ‘alat’ menghasilkan uang untuk menutupi kerugian akibat bencana.
Selain itu, para warga yang sudah cukup umur untuk menghasilkan uang secara wajar ikut-ikutan berdiri di tengah jalan raya meminta sumbangan uang. Tapi anehnya, penampilan dan sikap yang ditunjukkan nggak mencerminkan orang-orang yang pantas untuk diberi sumbangan uang. Karena banyak yang bersikap arogan dan berpenampilan preman dan bahkan ada yang modis.
Sedangkan aku melihat banyak bantuan datang dari berbagai pihak. Nah, sehubungan dengan bantuan dari berbagai pihak, aku melihat banyak pihak yang memanfaatkan bantuan kepada warga untuk maksud-maksud tertentu.
Contohnya bantuan dari parpol-parpol yang ada kantornya di pekanbaru. Selain itu, juga ada dari para peserta pilkada yang akan bertarung memperebutkan pimpinan tertinggi di propinsi riau. Hal ini nampak dari atribut dan logo yang mencolok.
Selain itu, bantuan juga datang dari perusahaan-perusahaan besar yang ada di propinsi riau. Terutama perusahaan yang bergerak di bidang hph. Karena mungkin mereka sadar, sedikit-banyak perusahaan-perusahaan itu ikut andil dalam bencana tersebut.
Jadi, gimana seharusnya ???
Filed under: Opini Publik Ditandai: | Alat, Alat tulis, Atribut, Banjir, Bantuan, Belajar, Bencana alam, Buku, HPH, Logo, Parpol, Perusahaan, Pihak, Pilkada, Sekolah, Sumbangan
Habis mau bagaimana, setiap kesempatan selalu dimanfaatkan para politikus.